Sabtu, 17 Februari 2018

APA KABAR KATA?




Commitment is an ACT not a WORD -Jean-Paul Sartre

Apa kabar kata?
Hanya 7% verbal atau word (kata-kata) memiliki peran dalam keseluruhan komunikasi. Tapi ada gestur dan intonasi yang juga memiliki peran yang lebih besar di dalam proses untuk memberikan informasi. Baik komunikasi terhadap orang lain atau diri sendiri.

Apakah ada berkomunikasi dengan diri sendiri? Tentu saja ada. Kita melakukannya setiap hari, di sadari atau tidak. Komunikasi merupakan kebutuhan untuk mengkonfirmasi rasa yang kita miliki.

Untuk itu, tidak sembarangan juga dalam memilih kata-kata. Karena kata-kata berpengaruh terhadap sebuah situasi yang bisa menyebabkan enak dan tidak enak. Nyaman atau tidak nyaman. Namun, jauh lebih penting dari itu, action atau aksi adalah rangkaian yang membuktikan bahwa kata semakin memiliki makna.

Itu sebabnya komitmen seorang muslim di dahului oleh syahadat. Yang dengan barisan kata-kata tersebut, paman nabipun berpikir berulang-ulang untuk menyambutnya. Karena apa? Ada komitemen (act) di dalamnya.

Dan ternyata ada tehnik untuk membuat keadaan hati dari tidak enak menjadi enak. Lebih nyaman saat menghadapi peristiwa yang menjengkelkan. Dimana keadaan yang kita rasakan tapi dampaknya membuat kita kecewa. Atau ada yang membuat kita tidak paham dengan kejadian-kejadian tersebut.

Mungkin, karena kita adalah manusia yang cenderung tidak memiliki pemahaman maksimal. Sehingga dengan ilmu seadaannya menyimpulkan sesuatu yang justru membuatnya hati semakin keruh dan kesal. Bahkan mempengaruhi orang-orang di sekitar kita.

Dalam buku Hearty Service (Service itu ada di sini) karya Agni S. Mayangsari, membahas soal reframing. Yaitu membuat frame ulang terhadap apa yang kita hadapi. Khususnya hal-hal yang tidak menyenangkan. Kondisi memilih reaksi terhadapnya. Karena akan banyak reaksi terhadap kejadian. Pikiran manusia ibarat kamera. Ia hanya memotret sesuatu yang masuk dalam area lensanya. Area yang kita fokuskan padanya. Inilah yang disebut dengan frame.

Kita membingkai pristiwa sehingga dari situ kita menemukan makna. Konteks reframing dari peristiwa yang menjengkelkan dengan mengemas dalam pikiran kita melalui kata-kata positif. Peristiwanya tetap sama, hanya kita memperoleh makna baru yang akan mempengaruhi reaksi kita selanjutnya. Dan tentu saja pikiran kita.

Praktek reframing ini diperlukan dengan latihan berulang-ulang terhadap peritiwa yang hadir dalam hidup, baik terduga atau tidak terduga. Dan mengkoleksi kata-kata positif diperlukan, sehingga saat kita membutuhkan, dengan mudah kita mengambilnya.


Selasa, 16 Januari 2018

NAWANG SINAWANG



Sejatine urip kuwi mung sawang sinawang” yang kurang lebih artinya hakikat hidup hanyalah persoalan bagaimana seseorang memandang/melihat sebuah kehidupan. Berhubungan dengan filosofih jawa tersebut. Mungkin kata lainnya, yaitu terka menerka apa yang orang lain rasakan dalam hidupnya.

Keahlian alamiah yang terdapat pada diri manusia. Menerka. Mengapa demikian? Karena keterbatasan ilmu yang dimiliki seorang insan membuatnya mampu melakukan ini. Jadi pekerjaan terka menerka menjadi sangat mudah. Tanpa harus di perlu dilatih kita memang meliki instiusi ini. Atau bisa dikatakan kemampuan untuk menganalisis.

Mari kita terka apa sebenarnya yang muncul dalam pikiran jika seroang lak-laki tua yang berjalan tiada arah, kelelahan, sendirian. Atau melihat seseorang yang memilki keluasan waktu untuk melakukan apa yang diinginkan tanpa harus bersusah-susah, setiap yang diinginkan pasti dapat.

Lain lagi juga pikiran kita bermain peran jika melihat seorang anak yang berjalan-jalan tanpa pengawasan orang tuanya, berkendaraan sendirian yang sepertinya diusianya belum tepat untuk mendapatkan ijin tersebut.

Silakan coba menerka apa sebenarnya yang terjadi pada latar belakang hidup mereka.

Pikiran kita memproduksi perkiraan terhadap situasi dan keadaan yang orang lain. Lantas membandingkan dengan hidup kita. Dan tidak banyak juga yang melihat hidup orang lain lebih berwarna dan indah dibandingkan dengan hidup yang mungkin kita rasa memiliki begitu banyak permasalahan. Jalan yang kita lalui begitu berliku, sedangkan orang lain bergerak mudahnya untuk mencapai sesuatu yang ia ingin capai atau tanpa dia berpikir untuk mencapainyapun Tuhan sudah begitu mudah menghadirkannya.

Karena biasanya keruwetan hidup kita membuat kita mulai berpikir, menerka, membandingkan bagaimana hidupnya orang lain. Mungkin rasanya beda jika kita membadingkan dengan kehidupan yang lebih malang dengan keadaan yang kita rasa.

Ya itulah kehidupan. Harusnya memang kita tahu persis dengan apa latar belakang hidup seseorang. Dan mengapa terjadi. Bisa jadi hal yang kita rasa sangat jauh dari apa yang kita terka. Kalaupun tepat pastinya sangatlah berbeda.

Dan semoga Allah memberikan instusi untuk kita agar berpikir tepat dalam menghadapi godaan Nawang sinawang. Karena kadang jauh lebih berat untuk menghitung nikmat yang sering tidak kita rasa. Itulah yang harusnya kita istighfari.

“.. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesunguhnya azab-Ku sangat pedih”

(Q. S. Ibrahim : 7)



Senin, 15 Januari 2018

CEMBURU



Pembahasan rasa ini memang sangat unik. Sebuah rasa yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) salah satu pengertian merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dan sebagainya.

Namun, jika pengertian tersebut lebih cenderung negatif, cemburu juga tidak luput dari sebuah rasa yang dibahas dalam islam. Sebuah rasa yang fitrah bagi seorang insan. Bahkan, sesungguhnya Allah cemburu, orang beriman cemburu dan cemburuNya Allah jika seorang mu’min melakukan apa yang Allah haramkan atasnya (HR. Imam Ahmad, Al Bukhori dan Muslim)

Kompleks rasa itu karena berdampak pada sikap yang kadang sulit dimengerti oleh akal sehat. Begitu pula dengan adab. Karena dikuasai rasa itu, adab bisa saja tertabrak. Tidak terpikir pantas atau tidak.
Kecemburuan yang ada terkadang timbul dibumbui oleh situasi yang mendukung dan keadaan yang menimbulkan prasangka datang. Sehingga jangankan heran jika perasaan cemburu ditingkahi oleh sikap yang menimbulkan kondisi tidak nyaman.

Dan apakah kecemburuan yang menguasai seseorang dapat dikendalikan? Malu, akhlak dan kembali adab yang mampu menahannya. Sekelas istri Rosulullohpun pernah dikuasainya. Sehingga sebenarnya kecemburuan itu adalah hal yang wajar. Tapi lebih indah jika usaha menahannya sesuai dengan keindahan sikap.

Sangatlah tidak mudah. Dari banyaknya rasa yang sulit untuk dikendalikan atau butuh ekstra perjuangan untuk mengendalikannya. Yah, tergantung juga dengan tingkat besar tidaknya kecemburuan itu.

Untuk itu penting mengenali rasa cemburu yang mulai terjangkit, mengenali akar mengapa rasa itu tiba-tiba muncul di dalam dada, mengapa seolah-olah kemarahan timbul dari dalam diri yang ingin diungkapkan. Tidak banyak juga, kecemburuan tersimpan rapat. Namun, kecemburuan yang menimbulkan kemarahan bahkan fatalnya bisa juga menimbulkan sikap tidak nyaman dan bahkan mengganggu orang-orang sekitar.

Kecemburuan terbaik meliputi irinya kita terhadap amalnya seorang muslim. Cemburu pada orang-orang yang menjadikan kebaikan di sekitar langkahnya, sedangkan diri kita masih berkelimpangan dengan maksiat.

Terlebih-lebih cemburu ini, pada sikapnya Abu Bakar terhadap Rosululloh, pemahaman hubungan antara Umar dengan Nabi SAW dan simpatinya Rosul terhadap Ustman yang pemalu. Duhai, mana yang lebih indah dari hubungan itu. Dan sunggu hubungan yang mungkin tidak pernah kita temui lagi walaupun sekiranya kita cemburu setengah mati.

#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMObatch12
#Day2
#CeritaKertas

Kamis, 04 Agustus 2016

Leonel Messi dan Tim Work


Oleh : Ani Sudaryanti

Leonel Messi mengumumkan keputusannya untuk tidak lagi memperkuat tim nasional Argentina. Mengapa? Usia Leonel Messi masih 29 tahun, untuk perperan sebagai pemain profesional masih bisa mencapai 5 atau bahkan 7 tahun kedepan. Kemungkinan untuk berprestasi sangat besar.

"Timnas bukan untuk saya. Bagi saya, timnas sudah berakhir. Saya sudah lakukan semampu saya, menyakitkan tidak menjadi juara" kata Leonel Messi pada satu kesempatan.  Puncaknya pada turnamen Copa America 2016 yang tidak juga mempu berjaya. Coba bayangkan bagaimana perasaan Messi yang sangat mencintai negerinya, tapi harus hengkang gara-gara tidak mampu menghadiahkan kemenangan.

Jika dilihat prestasinya, Messi adalah pemain yang mampu membawa FC Barcelona meraih delapan gelar juara La Liga dan empat piala Liga Champions. Bahkan, dia terpilih sebagai pemain terbaik dunia dengan meraih penghargaan Ballon d'Or sebanyak lima kali. Lantas, mengapa Messi merasa lumpuh saat di timnas Argentina. Bahkan, Messi menjadi bulan-bulanan bully dikarenakan tidak mampu membawa Argentina menjadi juara.

Messi, Argentina dan Barcelona

Tidak ada yang berani meragukan kemampuan Messi dalam bermain bola. Bukan hanya diakui di Argentina atau Spanyol tapi nama Messi sudah mendunia gara-gara sepak bola. Tapi pertanyaan besarnya adalah mengapa jika di Barcelona Messi adalah dewa, justru di Argentina tempat dimana Messi lahir tidak mampu untuk mengangkat namanya sama jayanya saat di Spanyol.

Banyak yang menyalahkan Messi dengan keadaan yang dialami oleh Argentina. Hingga, saat Messi "Frustasi" dan menyatakan gantung sepatu di timnas. Reaksi yang muncul setelah itu terjadi berragam pula.  Pro dan kontra. Hal yang biasa pada sebuah tindakan orang-orang besar. Dan cukup banyak yang mencoba untuk membuat Messi mengurungkan niatnya. Mungkin juga orang-orang yang tidak puas sebelumnya dengan Messi.

Jika ingin menggali lebih jauh antara Messi, Argentina dan Barcelona, mungkin para pakar atau pengamat sepakbola lebih bisa menggali lebih dalam. Tapi apapun itu bahasannya, tidak semua bisa mewakili kejadian yang terjadi secara utuh.

Tapi jangan pernah lupakan bahwa sepakbola adalah kerja tim. Jika hanya fokus terhadap Messi maka itu adalah salah besar. Barcelona dan Argentina terdiri dari orang-orang yang berbeda, dan Messi berada di dua tim tersebut. Tentu saja hasilnya akan berbeda. Banyak faktor yang menyebabkan kemenangan. Salah satunya adalah Tim.

Messi dan Tim Work

Dalam satu tim percuma jika hanya ada satu orang hebat atau banyak orang hebat tapi tidak berkaloborasi. Masing-masing sibuk dengan kehebatannya. Sebenarnya untuk orang hebat butuh orang lemah, karena untuk dikatakan superior dibutuhkan inferior. Jika kumpulan superiorpun belum tentu menghasilkan tim superior. Karena kemungkinan teriakan superior lebih kuat.

Ulasan ini tidak mengatakan bahwa Messi tidak mampu menjalankan posisinya di sebuah tim. Karena, Messi berada di dua tim dengan kondisi yang berbeda. Tantangan bagi kumpulan superior adalah penundukan ego dan mau mendengar. Tidak semua pendapat dan keputusan mampu diterima. Dan kolaborasi kemampuan dari semua superior adalah penting. Percuma jika kelebihan-kelebihan tersebut justru berbenturan dilapangan. Begitu pula dengan tim yang paduan antara superior dan inferior, bukan tidak mungkin justru tim bisa melesat karena penghargaan dari masing-masing individunya.

Yang menjadi tantangannya, bagaimana seorang superior seperti Messi atau seorang inferior tetap mampu menerbangkan sebuah kinerja tim. Kita Messi atau bukan, tidaklah penting. Yang penting adalah kolaborasi. Jangan sampai sang superior terbang tinggi, sang inferior merangkak tersesat.

Duren Sawit, 04 Agustus 2016
Dari Inferior. Saat ruang diskusi sudah sempit, saat waktu sudah semakin limit.


Minggu, 08 Mei 2016

Apa Warna Rindumu?





Oleh : Ani Sudaryanti
 
Jika divisualisasikan sebuah kata rindu, bisa saja diwakilkan pada warna-warna. Dia bisa kelabu, terang atau lembut. Rindu adalah dari sebuah rasa dari banyak rasa yang ciptakan Tuhan dalam kehidupan manusia berinteraksi atau berekspresi.

Jika ada pertanyaan, apa warna rindumu? Itu sama sekali tergantung dari pristiwa yang melatarinya. Rindu bisa tercipta dari jejak-jejak masa lalu atau bisa juga sketsa masa depan yang menjadi harapan. Dalam salah satu bukunya, Salim A. Fillah menuliskan bahwa Allah senantiasa memberikan kepada kita dua sisi mata uang; apa-apa yang kita sukai dan apa-apa yang menjerihkan hati. Disitulah makna kerinduan. Kalau dunia berisikan segala yang kita inginkan, mungkin kita tak perlu memiliki rasa rindu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rindu berarti sangat ingin atau berharap benar terhadap sesuatu. Mungkin bisa disimpulkan rindu adalah perjuangan. Sebuah rasa yang tidak diundang. Dia muncul dari bagian imajinasi yang bergumul dari pemikiran seseorang. Rindu juga dapat menjadi benang penghubung dengan sebuah mimpi. Motivasi. Tangga gambaran tentang masa depan.

Kisah Rindu Syahdu

Membekas sekali dari sebuah perjalanan hijrah Rasulullah dan para sahabat, mereka diperintahkan berpidah dari Mekah ke Madinah. Sebuah perjalanan yang tidak mudah, tidak ada gambaran tentang Madinah. Dan Mekah adalah tempat segala-galanya yang telah mereka miliki. Bahkan sekelas Abu Bakar dan Bilal tetap saja menggulirkan kerinduan mereka terhadap Mekah. Rindu Rumah. Dalam keadaan demam Abu Bakar pun bersyair :

Kala Pagi. Setiap orang bisa berkumpul dengan keluarga. Namun kematian lebih dekat dari tali terompahnya!

Kisah lainnya, tentang perceraian antara Abdurrahman anaknya Abu Bakar dengan istrinya, Atikah. Mereka bercerai bukan karena ada permasalahan dalam rumah tangganya, bahkan terlalu sempurna. Terlalu besar besar cinta diantara mereka. Dan saat Abu Bakar memerintahkan untuk menceraikannya, Abdurrahman menurutinya. Ini terjadi karena cinta Abdurrahman terhadap Atikah telah melalaikan jihad dan ibadah. Cinta yang dihadirkan dikhawatirkan mengalahkan cintanya terhadap Allah. Dan itu luar biasa.

Keadaan tersebut, melahirkan rintihan rindu dari seorang Abdurrahman bin Abu Bakar. Sesuatu hal yang manusiawi. Hingga pada akhirnya mereka rujuk kembali. Lain halnya dengan Buya Hamka semenjak ditinggal meninggal istrinya. Beliau, jika dilanda rindu maka akan sholat taubat 2 rokaat dan membaca Al Qur’an hingga lelah. Dan ketika ditanya mengapa harus sholat tobat? Karena takut kecintaannya terhadap istrinya lebih besar dibandingkan cintanya kepada Allah. Masya Allah. Sebuah rindu yang coba disekam adalah perjuangan.

Rindu dan Kesempatan

Berjalannya detik sedetik waktu entah lambat, entah cepat meninggalkan adalah pasti. Meninggalkan masa lalu. Rindu pada masa kecil, pada sahabat-sahabat pergerakan dalam kebaikan, teman berbagi cerita dan kemanjaan orang tua. Situasi rindu yang tidak jarang kita rasai. Masa-masa perjuangan, walaupun kadang disela oleh tangis pedih. Maka saat kita dilingkari oleh orang-orang baik, orang-orang yang sholeh, sebenarnya itu rejeki. Itu adalah kesempatan yang harus kita syukuri. 

Rindu pada sebuah perubahan kebaikan, rindu pada ketenangan, rindu tentang peradaban islam dan rindu tentang kejayaan kebaikan adalah hal-hal yang kita harap untuk terjadi dimasa depan. Itu adalah tangga atau bahan bakar kita untuk dapat mengusahakannya. Karena itu tidak mudah, usaha-usaha yang butuh keringat yang dibungkus oleh keimanan. 

Dan mungkin yang paling menyesakan jika kita bayangkan sebuah kata rindu adalah amal sholeh yang kita ingat saat di alam kubur, kebaikan yang tiada dapat terbilang besar saat diakhirat. Rindu untuk kembali ke dunia. Bertekad melakukan seluruh kebaikan. Dan saat itu, rindu sudah tidak berdampak apa-apa. 

Dan jika rindu masih pada sebuah lingkaran dunia. Mari kita sikapi dengan anggun, menikmati rindu sebagai karunia, menyikapi dengan bijak dan membungkus rasa rindu pada kotak hati terdalam. Sampaikan rindumu dalam ranah yang baik, titipkan doa terbaik dari Sang Pemilik rindu.

Saatnya menghargai semua yang kita miliki sekarang, suatu saat nanti kemungkinan kita akan merindui kesempatan ini.

Selamat Merindu

DS, 08 Mei 2016
Long weekend.




Kamis, 25 Juni 2015

Cahaya Hati, Lentera Amanah.


Seorang wanita mulia mendapatkan pesan dari suaminya, ia mendapatkan 30.000 dinar, untuk ia simpan dan pergunakan sebagai mana mestinya. Usai itu, suaminya pergi ke medan jihad hingga tidak kembali beberapa lama.

Amanah padanya tidak hanya dinar tersebut, tapi jabang bayi yang bersemayam di rahimnya. Untuk jangka waktu yang lama, sang penitip amanah tidak juga kembali. Tanggung jawab itu, dia emban dengan baik. Diasuh dan didiknya putra semata wayangnya. Dilihat potensi sang belahan jiwa, dia titipkan pada banyak alim ulama. Mimpinya menjadikan putranya menguasai ilmu kebaikan. Kerena, keshalihan putranya tersebut adalah investasi terbaik baginya.

Sepanjang waktu yang beranjak senja, putranya memiliki ketertarikan yang luar biasa terhadap fiqh. Semakin hari, terlihat begitu cemerlangnya separuh jiwanya itu, banyak yang terpesona dengan ilmu yang membuatnya bangga membuncah.

Seusai itulah, tidak ragu bagi sang ibu untuk memberikan hadiah belipat-lipat kepada ahli ilmu yang membimbing putranya. Ia begitu dermawan. Diberikan berlebihan dari harta dinar titipan suaminya. Bahkan hingga kinipun, sang suami belum juga pulang.

Sang ibu tidak segan-segan untuk menghabiskan hartanya, demi bait per bait ilmu yang didapat oleh sang putra.  Hingga beberapa waktu lamanya, diusia senja sang suami datang padanya. Namun, terbesit kekhawatiran, bagaimana jika sang suami menanyakan amanah 30.000 dinar pada 30 tahun yang lalu. Sedangkan tiada tersisa sedikit pun ditangannya.

Selagi sang ibu mencari jawab atas tanya itu, sang suami menghadiri majelis ilmu. Seorang syaikh yang dilingkari oleh tua, muda, kaya dan miskin. Bahkan wajahnya tidak juga tidak bisa ia lihat dengan jelas. Maka ditanyakannya pada orang sekitar, penjelasannya membuatnya takjub. Membuatnya melelehkan air mata keharuan.

Terburu-burulah ia menemui istrinya, memeluknya. Syaikh yang dilihatnya adalah putranya. Namanya Rabi’ah putra Farrukh. Maka diucapkanlah oleh istrinya, “manakah yang kausukai, uang 30.000 dinar atau ilmu dan kehormatan yang telah dicapai putramu?”

Maka diakuinya bahwa harta 30.000 dinar telah ia habiskan demi kebutuhan putranya. Namun, Farrukh berkata “Demi Allah, bahkan ini lebih aku sukai daripada dunia seisinya”.

Amanah Diri

Selembar jiwa ini bersemayam dalam tubuh sempurna. Dia dilengkapi dengan degup jantung, paru-paru yang dipenuhi oksigen tanpa bayar, panca indera yang mampu menyalurkan keindahan dunia fana. Entah, ia kurus, gemuk, hitam, kuning, cantik, tampan, mempesona ataupu tidak. Ia tetap sebuah karunia yang mahakarya.

Ia diciptakan dilingkupi oleh amanah. Setiap tarikan nafas ini adalah episode mancari jawab. Sebuah jawab dari tanya di akhirat kelak. Dan mampukah jawab itu terlontar dengan sempurna. Kita belajar dari ummu Rabiah soal menjaga amanah. Dinarnya adalah amanah. Namun putranya juga amanah. Menjadikan shalih seorang putra adalah hak baginya.

Ummu Rabi'ah tahu bagaimana memperlakukan sebuah amanah. Dinar yang sirnah karena pencapaian ilmu bagi putranya, adalah jawab dari sebuah amanah sang suami. 

Ilmu adalah cahaya

Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tak mengetahui? Sesungguhnya, Ulul Albablah yang dapat mengambil pelajaran. (Q.s. Az. Zumar :9)

Mencari tahu dan berilmu adalah hak. Dengannya segala kerumitan menjadi mudah. Temaram menjadi terang. Dengan berilmu, mudahlah seorang diri memilah mana baik dan tidak. Ilmu pula yang menenggelamkan keputusasaan. Karena dengan berilmu kita mampu mengenal jauh Tuhan kita. Sehingga tahu bagaimana amanah ini harus dijalankan.

Kita perlu peluh dalam mengkaji ilmu. Anak desa rela mengayuh sepeda hanya untuk menguasi huruf-huruf untuknya bisa membaca. Menguasai sebuah ilmu diperlukan kegigihan sejati. Berilmu dunia bisa begitu masyur. Bagaimana dengan ilmu tentang akhlak dan aturan hidup sebuah titah amanah Illahi (Al Qur'an). Karena dalam keimanan, tiada pemisahan antara urusan dunia ataupun akhirat. 

Dan sebagaimana janjiNya terhadap anak yang mampu menguasai Al Qur’an. Mahkota akan disematkan bagi kedua orang tuanya. Sebab itulah, betapa dinar dunia tidak mampu menandingi seorang anak yang berilmu. Karena hanya bagi orang yang berilmulah pula yang mampu mengerti untuk tidak meninggalkan sebuah generasi pelupa amalan Al Qur’an.

Oleh sebab itu, pendidikan islami adalah sebuah sindikat kebaikan. Konspirasi kesalehan. Disana tersaji bagian-bagian untuk mendapatkan amal jariah. Ini berlaku bagi siapapun yang rela mengusahakannya, walaupun ia hanya sekedar pembersih pelataran dimana ilmu itu ditimba.

Karena tangisan penyesalan, bukanlah jawaban dari sebuah amanah. Walaupun, kita hidup sebenarnya hanya untuk mampu mencari jawab dari segala amanah yang melekat.

Duhai Robbi. Kami mohon cahaya pada hati kami, cahaya ilmu, cahaya amanah, penerang jalan kami di dunia dan akhirat. Generasi Qur’ani adalah beranda surga. Tidak mengapa, walau baru melihat berandanya saja.

Duren sawit, 25 Juni 2015.



Minggu, 14 Desember 2014

Jatuh Cinta



Jika rindu itu gelombang, maka ia bergemuruh. Dan jika cinta itu berwarna maka ia adalah pelangi. Begitu pula jika kasih adalah mendung maka ia menjelma menjadi hujan.

Jatuh cinta. Ia adalah bagian dari riak-riak rasa. Terjadi pada seorang insan yang tiba-tiba terikat pada sebuah pesona. Kita tidak bisa memilih untuk jatuh cinta dengan siapa. Tapi, kondisi jatuh cinta itu karena ada presepsi awal yang tertanam dalam benak anak manusia dalam hal mendefinisikan kekaguman.

Cinta memang bersifat universal, artinya tidak melulu dengan seseorang yang berbeda jenis. Namun, proses jatuh cinta adalah hal yang memang dialami semua orang. Seorang bayi yang baru lahir, akan jatuh cinta pada ibunya. Simplenya adalah ada pesona yang hadir pada sang bayi, yang saat itu dan ia pahami secara sederhana, ibunyalah yang telah memberikan rasa aman baginya. Bagaimanapun juga, proses jatuh cinta itu pasti karena sebuah sebab. Entah disadari atau tidak. Walaupun ada yang bilang kita tidak bisa memilih untuk jatuh cinta dengan siapa dan dengan cara bagaimana.

Cinta Merah Muda

Jatuh cinta adalah sebuah proses yang ajaib. Bisa dikatakan anugrah. Kondisi seseorang yang sedang jatuh cinta menimbulkan prilaku berragam. Menciptakan desiran pada hati dengan ritme degup detak jantung yang tidak stabil. Saya sedang tidak jatuh cinta. Namun, saya pernah merasakannya. Kesempatan ini, saya mengkhususkan menuliskan tentang betapa ajaibnya sebuah aktivitas jatuh cinta. Karena situasi ini sedang terjadi pada sahabat saya. Ia sedang jatuh cinta dan mendamba sangat dalam untuk bisa berdampingan dengan pria tersebut. 

Kondisi jatuh cinta itu menimbulkan banyak pertanyaan baginya. Apalagi cinta itu terjadi hanya kerena satu kali pertemuan. Tapi usai itu, dampak jatuh cintanya membuatnya sedikit limbung.  Prosesnya begitu cepat. Saya dan ia, pernah berfikir bahwa pada rentangan garis usia kami, jatuh cinta dapat ditakar dengan logika. Atau tidak akan mudah bagi kami untuk jatuh cinta lagi, karena usia kami jauh dari usia remaja, dimana usia tersebut tidak terlalu banyak menggunakan logika dalam hal menyukai sesuatu. Selain itu, kami sudah banyak memiliki pengalaman hidup. Sehingga dengan sekuat tenaga berharap jatuh cinta tidak mencincang hati menjadi serpihan kecil-kecil.

Dan ternyata salah. Tepatnya saya yang salah. Kerena hingga tulisan ini saya buat, sebuah keindahan dan keajaiban cinta baru ada pada sebuah film korea. Karena bagi saya proses jatuh cinta adalah sebuah kejadian pagi, sedangkan kita harus menghadapi siang dan malam kehidupan. Jatuh cinta adalah salah satu bagian dari aktivitas hidup. Ia adalah riak-riak rasa, satu dari sekian banyak rasa dalam kalbu seseorang manusia.

Namun, cinta bagi sahabat saya itu membuat saya merenung, cinta adalah fitrah yang tidak terbantahkan. Maka saya katakan padanya, nikmatilah rasa itu. Ekspresikan cinta dengan anggun, dengan aturan Tuhan terhadap yang mengikat kita agar selamat dari kejahatannya. Biasanya patah hati membuat berderai air mata, tapi ternyata bagi dia jatuh cinta membuatnya matanya basah. Dan yang membuat saya kagum, jatuh cinta yang terjadi padanya membuatnya semakin banyak memeluk sajadah. Kami sama-sama menyakini cinta adalah bagian tanda atau serangkaian pesan Tuhan yang ingin Dia sampaikan.

Jatuh cinta adalah kekuatan

Cinta adalah sebuah kekuatan dan akan berakhir pada sebuah tindakan pengorbanan. Maka karena hal itulah, saat tengah di mandikan sebuah rasa bernama cinta, setidaknya kita harus membangun pertahanan. Sehingga cinta tidak mengubur hati kita hidup-hidup. Yang membuatnya tidak bernafas saat jatuh cinta menjadi patah hati. Karena ada kalanya tangan bisa bertepuk hanya sebelah. Atau ada mata kunci yang hilang, sehingga ada ruang dalam hati kita belum bisa terbuka oleh seseorang yang tepat.

Karena walaupun ruangan di hati itu ingin sekali berpenghuni, nyatanya ia hanya bisa diisi oleh seseorang yang ditakdirkan Tuhan untuk mendiaminya selamanya. 

Jatuh cintalah berkali-kali

Seperti yang saya katakan tadi, jatuh cinta adalah pagi. Kondisi tanpa syarat. Bahkan bisa pada kondisi rasa yang klimaks. Oleh sebab itu, kondisi itulah yang bisa disebut buta dan mampu membuat seseorang mengabaikan apapun. Ada energi yang terjadi didalamnya. Dan saat kita melanjutkan ke bagian siang dan malam. Energi pagi seseorang yang sedang jatuh cinta memudar. Maka jika kondisi jatuh cinta dapat dibuat  berulang-ulang, lakukanlah.

Seorang anak akan jatuh cinta berkali-kali dengan orang tuanya. Suami yang jatuh cinta lagi pada istrinya lagi, begitu sebaliknya. Dan buat para single, jatuh cintalah dengan anggun. Sehingga dapat bertindak dengan aturan yang baik. Karena bisa jadi jatuh cinta adalah anugrah. Karena tidak semua orang dapat ditakdirkan jatuh cinta lagi.

DS, 14 Desember 2014

Catatan buat grup kepompong, yang malam ini ribut di grup. I love u, all. :)
This is for ms. Bunny.






APA KABAR KATA?

Commitment is an ACT not a WORD -Jean-Paul Sartre Apa kabar kata? Hanya 7% verbal atau word (kata-kata) memiliki peran dalam keselu...