Selasa, 20 Maret 2018

HARI BAHAGIA INTERNASIONAL

Sungguh saya baru tahu kalau hari ini adalah hari bahagia internasional. Hari bahagia ini ditetapkan pada tanggal 20 Maret 2018.

Kalau memang ada yang bertanya mengapa harus tanggal 20 Maret? Itu juga pertanyaan saya. Dan kenapa juga bahagia harus ditetapkan hari ini. Kalau hanya bahagia hanya 1 tahun sekali, betapa suramnya hidup ini. Betapa tidak bisa berwarnanya hidup. Setiap orang menanti bahagia di hari yang sama.

Baiklah, saya menyudahi protes saya tentang hari bahagia. Tidak ada salahnya orang lain menetapkan hari bahagianya. Protes malah menunjukan ketidakbahagiaan.

Hari bahagia internasional ditetapkan pada tahun 2012. Yaitu pada tanggal ini. Hari ini. Dimana PBB sebagai lembaga yang menetapkan menyerukan orang-orang untuk melupakan kesedihannya sementara. Tapi kalau buat saya, kalau bisa selamanya mengapa harus sementara. Bukan begitu?

Kembali lagi pada hari bahagia, dimana perayaan Pertama di lakukan pada tahun 2013. Dimana orang-orang di dunia berbagi foto kebahagiaan mereka. Apa dampaknya? Berbagi kebahagiaan penting. Karena dengan berbagi kebahagiaan dan optimistis, kita akan tahu bahwa diluar sana bahagia akan menyambut kita. Saya rasa begitu. Boleh sepakat atau tidak.

Hari bahagia tidak mesti harus terjadi di hari ini. Tapi hari bahagia memberikan 'warning' bahwa seringnya kita melupakan nikmat-nikmat yang perlu kita syukuri. Maka sesuai janji Allah, ditambahkan dengan bahagia di hati kita.

Mari berbahagia setiap hari. Kita selalu punya alasan untuk bahagia. Bisa. InsyaAllah.

Siap bahagia?

DS, 20 Maret 2018

Minggu, 18 Maret 2018

Doa Sore

Aku berlari menjemput doa yang akan Allah kabulkan. Sambil menutup semua telinga agar teriakan-teriakan dunia tidak terdengar. Hingga beberapa kali aku selalu dibenturkan dengan ketidakmungkinan dengan ilmu manusia yang terbatas.

Namun, aku sedang tidak berharap, apalagi bergantung pada sesuatu yang rapuh. Aku bersandar dan terus merebut perhatianNya bahwa hanya ada kata mungkin di kamusNya.

Tiada yang hampa jika terpaan sepi diisi dengan berkejaran diri dengan berkeringat berharap pada Allah. Tiada sunyi, karena riuh hati terus bergemuruh meminta.

Robbi. Robbi. Robbi.

Karena berisik jiwa merapalkan doa, karena sesungguhnya aku tahu bahwa tiada kecewa aku berharap padaMu.

Jadi, maafkan jika doa-doa ini terbentur dengan banyaknya dosa. Namun Robbi, kemana lagi aku tegakkan harap selain padaMu.

Perkenankan lah Robbi. Allah, Tuhan yang aku cintai.

DS, 18 Maret 2018

Minggu, 11 Maret 2018

KISAH MENGGEMASKAN DARI LETNAN DUA HIROO ONODA


Oleh : Ani Sudaryanti
Bilang saja saya sedang mengagumi sisi lain Letnan Dua Hiroo Onoda, seorang prajurit yang sangat memegang sebuah komitmen perintah dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang.  Sudah banyak yang tahu bahwa ‘gengsi’ tinggi dari budaya Jepang membuat banyak dari orang-orang yang merasa gagal berakhir pada sebuah kematian yang hadir karena tangannya sendiri. Bunuh diri. Bahkan ada sebuah istilah harakiri. Yaitu menikam tubuhnya sendiri dalam rangka menebus rasa malu atas kegagalan.

Bagaimana dengan kisah Hiroo Onoda, mungkin sudah banyak yang tahu. Karena kalau kita cari nama tersebut di google, banyak yang menceritakan tentang kisah letnan dua tersebut. Menarik bagi saya menyelami sejarah yang menurut saya adalah bagian dari mempersatukan titik data dengan titik yang lainnya. Sehingga menjadi sebuah sejarah bisa menjadi pelajaran.

Onoda diperintahkan oleh komandannya untuk berangkat ke Filipina di sebuah pulau bernama Lubang. Kejadian itu satu tahun sebelum kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 26 Desember 1944. Perintahnya hanya satu, mempelambat gerakan pasukan Amerika dan tidak boleh menyerah.  Sebuah misi bunuh diri, disaat Jepang yang mulai banyak mengalami kekalahan. Tapi jiwa kesatria Onoda dan pasukannya sudah teruji. Kesetiaan yang harus dibuktikan. Walau harus mati.

Hingga, saatnya benar pasukan Amerika mendarat disana. Hampir semua pasukan mati karena perlawanan tersebut, ada yang menyerah dan terbunuh. Tertinggal hanya Onoda dan 3 orang pasukan yang berhasil bersembunyi di pedalaman hutan.

Saat masa-masa itu, sungguh menarik bagi saya mencermati nilai-nilai perjuangan Onoda dan pasukannya.

1.   Onoda tetap bertahan dan terus melakukan perjuangan dengan bergrilya melawan penduduk setempat. Menyerang jalur pasokan, menembaki tentara AS dengan peralatan seadanya dengan apapun yang mereka bisa. Bagi saya ini adalah sebuah sikap pantang menyerah, tidak melihat situasi apapun. Yang ada adalah bertahan dan menyerang. Bukan hanya bertahan saja. Tapi tetap berorentasi pada tujuan Onoda di Lubang.

2.    Onoda tidak mudah percaya dengan keadaan diluar sana. Informasi-informasi yang tentunya jauh dia jangkau. Hingga ada bulan Agustus, saat bom atom jatuh di Hirosima dan Nagasaki yang menandai perang telah usai. Selebaran kekalahan tentara Jepang disebar di atas  wilayah Pasifik dianggap Onoda sebagai selebaran palsu yang hanya trik sebuah perang. Selebaran itu sama sekali tidak merubah pola pikirnya. Dan tidak ada kata menyerah buatnya. Bahkan setelah 5 tahun berlalu, Onoda masih menembaki masyarakat sekitar. Sebagai tanda bahwa perang masih berlanjut. Onoda seperti dalam sebuah kegelapan yang membuatnya menolak cahaya apapun, entah berita gembira atau sedih.

3.  Entah apa yang tidak membuat Onoda tetap pada pendiriannya. Karena pada tahun 1952 pemerintah Jepang mengambil langkah terakhir untuk menarik para prajurit dengan surat-surat dan foto-foto dari keluarga juga sepucuk surat dari kaisar.  Kesetiannya pada negara tidak juga terpengaruh. Bahkah pengaruh paling sensitifpun, yaitu keluarga. Cinta yang mungkin ia rindukan. Onoda menolak mempercayai itu dan sama sekali tidak terpengaruh oleh foto-foto tersebut. Ia masih mengira itu adalah tipu daya Amerika.

Hingga pada akhirnya pada tahun 1952, salah satu pengikut Onoda meninggal dan terbunuh oleh penduduk setempat. Ya karena, Onoda dan 3 gelintir pasukannya terus melakukan teror membuat perlawanan yang menyebabkan salah satunya meninggal.

Pemerintah Jepang dan masyarakatnya sungguh penasaran dengan kisah Onoda ini. Apakah beliau masih hidup? Dan dimana? Bahkan menjadi legenda yang menjadi cerita turun temurun. Saat Jepang sudah mengeliat bangkit usai perang yang menyakitkan. Onoda masih dengan ‘penderitaan’ perang dan bahkan sangat menikmatinya. Tidak berniat mengakhiri apalagi menyerah. Karena kesetiaan dan perintah adalah harga mati. Tidak masalah kalaupun harus mati.

Sebuah pernyataan menarik, saat Onoda yang ditemukan oleh pemuda yang sama berantakan hidupnya, nekad mencari Onoda hingga ke hutan. Di tahun 1972, Onoda mengatakan bahwa alasannya untuk bertahan adalah dia diberi perintah untuk “jangan menyerah”.

Onoda keluar dari pernyembunyiannya, melihat dunia yang begitu terang. Yang mungkin membuatnya sulit beradaptasi, karena lebih 30 tahun ia menikmati gelap dan bertahan pada sebuah perintah. Entah apa namanya, sebuah kemenangan atau kekalahan karena terlalu keras kepala.

DS, 11 Maret 2018

Selasa, 06 Maret 2018

NYASAR


Pada setiap ribuan perjalanan yang pernah di tempuh. Pasti salah satunya atau lebih, kita pernah menemui sebuah jalan dimana jalan yang sama sekali tidak kita inginkan atau bukan tujuan kita sebenarnya. Kata lainnya tersesat atau nyasar. Bukan sebuah daerah yang kita inginkan berada disana.

Pengalaman tersesat merupakan sebuah pengalaman yang tidak menyenangkan. Bisa jadi pengalaman tersesat menjadi suatu moment yang di hindari. Karena dengan tersesat, akan ada waktu yang terbuang. Energi yang hilang lebih besar dari seharusnya dan sabar yang harus ditata.

Namun, pada sebuah kejadian. Tentulah ada hikmah. Bagimana Columbus yang menemukan benua Amerika akibat dari arah yang tidak sesuai dengan yang ia tuju bahkan tidak pernah pula ia pikirkan sebelumnya. Menemukan sesuatu yang baru. Dimana daerah yang bisa jadi tidak pernah kita kenal.

Menyelami hal-hal baru, dimana kondisinya bukan sama sekali sesuatu yang kita tuju atau inginkan, tentunya meresahkan hati. Jika tidak mampu mengenali emosi yang tercipta, maka kita akan mudah dikuasai. Lalu tiada hentinya merutuki keadaan yang mungkin, kondisi tersesat atau nyasar merupakan bagian dari salah kita.

Jadi pada hakikat tersesat sebenarnya, ada sesuatu yang ingin, Allah tunjukan. Bahkan pada kondisi konotasi sekalipun ‘tersesat’ dalam memilih jalan hidup. Disana, jika kita mampu menelaah lebih jauh, kita merasakan betapa lelah jika terlalu lama berada di jalan yang ‘sesat’.

Temukan hikmah dari sebuah kejadian tersesat. Lalu, menata kembali pikiran untuk kita mampu menemukan jalan yang sebenarnya.

Duren Sawit, 06 Maret 2018


Sabtu, 17 Februari 2018

APA KABAR KATA?




Commitment is an ACT not a WORD -Jean-Paul Sartre

Apa kabar kata?
Hanya 7% verbal atau word (kata-kata) memiliki peran dalam keseluruhan komunikasi. Tapi ada gestur dan intonasi yang juga memiliki peran yang lebih besar di dalam proses untuk memberikan informasi. Baik komunikasi terhadap orang lain atau diri sendiri.

Apakah ada berkomunikasi dengan diri sendiri? Tentu saja ada. Kita melakukannya setiap hari, di sadari atau tidak. Komunikasi merupakan kebutuhan untuk mengkonfirmasi rasa yang kita miliki.

Untuk itu, tidak sembarangan juga dalam memilih kata-kata. Karena kata-kata berpengaruh terhadap sebuah situasi yang bisa menyebabkan enak dan tidak enak. Nyaman atau tidak nyaman. Namun, jauh lebih penting dari itu, action atau aksi adalah rangkaian yang membuktikan bahwa kata semakin memiliki makna.

Itu sebabnya komitmen seorang muslim di dahului oleh syahadat. Yang dengan barisan kata-kata tersebut, paman nabipun berpikir berulang-ulang untuk menyambutnya. Karena apa? Ada komitemen (act) di dalamnya.

Dan ternyata ada tehnik untuk membuat keadaan hati dari tidak enak menjadi enak. Lebih nyaman saat menghadapi peristiwa yang menjengkelkan. Dimana keadaan yang kita rasakan tapi dampaknya membuat kita kecewa. Atau ada yang membuat kita tidak paham dengan kejadian-kejadian tersebut.

Mungkin, karena kita adalah manusia yang cenderung tidak memiliki pemahaman maksimal. Sehingga dengan ilmu seadaannya menyimpulkan sesuatu yang justru membuatnya hati semakin keruh dan kesal. Bahkan mempengaruhi orang-orang di sekitar kita.

Dalam buku Hearty Service (Service itu ada di sini) karya Agni S. Mayangsari, membahas soal reframing. Yaitu membuat frame ulang terhadap apa yang kita hadapi. Khususnya hal-hal yang tidak menyenangkan. Kondisi memilih reaksi terhadapnya. Karena akan banyak reaksi terhadap kejadian. Pikiran manusia ibarat kamera. Ia hanya memotret sesuatu yang masuk dalam area lensanya. Area yang kita fokuskan padanya. Inilah yang disebut dengan frame.

Kita membingkai pristiwa sehingga dari situ kita menemukan makna. Konteks reframing dari peristiwa yang menjengkelkan dengan mengemas dalam pikiran kita melalui kata-kata positif. Peristiwanya tetap sama, hanya kita memperoleh makna baru yang akan mempengaruhi reaksi kita selanjutnya. Dan tentu saja pikiran kita.

Praktek reframing ini diperlukan dengan latihan berulang-ulang terhadap peritiwa yang hadir dalam hidup, baik terduga atau tidak terduga. Dan mengkoleksi kata-kata positif diperlukan, sehingga saat kita membutuhkan, dengan mudah kita mengambilnya.


Selasa, 16 Januari 2018

NAWANG SINAWANG



Sejatine urip kuwi mung sawang sinawang” yang kurang lebih artinya hakikat hidup hanyalah persoalan bagaimana seseorang memandang/melihat sebuah kehidupan. Berhubungan dengan filosofih jawa tersebut. Mungkin kata lainnya, yaitu terka menerka apa yang orang lain rasakan dalam hidupnya.

Keahlian alamiah yang terdapat pada diri manusia. Menerka. Mengapa demikian? Karena keterbatasan ilmu yang dimiliki seorang insan membuatnya mampu melakukan ini. Jadi pekerjaan terka menerka menjadi sangat mudah. Tanpa harus di perlu dilatih kita memang meliki instiusi ini. Atau bisa dikatakan kemampuan untuk menganalisis.

Mari kita terka apa sebenarnya yang muncul dalam pikiran jika seroang lak-laki tua yang berjalan tiada arah, kelelahan, sendirian. Atau melihat seseorang yang memilki keluasan waktu untuk melakukan apa yang diinginkan tanpa harus bersusah-susah, setiap yang diinginkan pasti dapat.

Lain lagi juga pikiran kita bermain peran jika melihat seorang anak yang berjalan-jalan tanpa pengawasan orang tuanya, berkendaraan sendirian yang sepertinya diusianya belum tepat untuk mendapatkan ijin tersebut.

Silakan coba menerka apa sebenarnya yang terjadi pada latar belakang hidup mereka.

Pikiran kita memproduksi perkiraan terhadap situasi dan keadaan yang orang lain. Lantas membandingkan dengan hidup kita. Dan tidak banyak juga yang melihat hidup orang lain lebih berwarna dan indah dibandingkan dengan hidup yang mungkin kita rasa memiliki begitu banyak permasalahan. Jalan yang kita lalui begitu berliku, sedangkan orang lain bergerak mudahnya untuk mencapai sesuatu yang ia ingin capai atau tanpa dia berpikir untuk mencapainyapun Tuhan sudah begitu mudah menghadirkannya.

Karena biasanya keruwetan hidup kita membuat kita mulai berpikir, menerka, membandingkan bagaimana hidupnya orang lain. Mungkin rasanya beda jika kita membadingkan dengan kehidupan yang lebih malang dengan keadaan yang kita rasa.

Ya itulah kehidupan. Harusnya memang kita tahu persis dengan apa latar belakang hidup seseorang. Dan mengapa terjadi. Bisa jadi hal yang kita rasa sangat jauh dari apa yang kita terka. Kalaupun tepat pastinya sangatlah berbeda.

Dan semoga Allah memberikan instusi untuk kita agar berpikir tepat dalam menghadapi godaan Nawang sinawang. Karena kadang jauh lebih berat untuk menghitung nikmat yang sering tidak kita rasa. Itulah yang harusnya kita istighfari.

“.. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesunguhnya azab-Ku sangat pedih”

(Q. S. Ibrahim : 7)



Senin, 15 Januari 2018

CEMBURU



Pembahasan rasa ini memang sangat unik. Sebuah rasa yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) salah satu pengertian merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dan sebagainya.

Namun, jika pengertian tersebut lebih cenderung negatif, cemburu juga tidak luput dari sebuah rasa yang dibahas dalam islam. Sebuah rasa yang fitrah bagi seorang insan. Bahkan, sesungguhnya Allah cemburu, orang beriman cemburu dan cemburuNya Allah jika seorang mu’min melakukan apa yang Allah haramkan atasnya (HR. Imam Ahmad, Al Bukhori dan Muslim)

Kompleks rasa itu karena berdampak pada sikap yang kadang sulit dimengerti oleh akal sehat. Begitu pula dengan adab. Karena dikuasai rasa itu, adab bisa saja tertabrak. Tidak terpikir pantas atau tidak.
Kecemburuan yang ada terkadang timbul dibumbui oleh situasi yang mendukung dan keadaan yang menimbulkan prasangka datang. Sehingga jangankan heran jika perasaan cemburu ditingkahi oleh sikap yang menimbulkan kondisi tidak nyaman.

Dan apakah kecemburuan yang menguasai seseorang dapat dikendalikan? Malu, akhlak dan kembali adab yang mampu menahannya. Sekelas istri Rosulullohpun pernah dikuasainya. Sehingga sebenarnya kecemburuan itu adalah hal yang wajar. Tapi lebih indah jika usaha menahannya sesuai dengan keindahan sikap.

Sangatlah tidak mudah. Dari banyaknya rasa yang sulit untuk dikendalikan atau butuh ekstra perjuangan untuk mengendalikannya. Yah, tergantung juga dengan tingkat besar tidaknya kecemburuan itu.

Untuk itu penting mengenali rasa cemburu yang mulai terjangkit, mengenali akar mengapa rasa itu tiba-tiba muncul di dalam dada, mengapa seolah-olah kemarahan timbul dari dalam diri yang ingin diungkapkan. Tidak banyak juga, kecemburuan tersimpan rapat. Namun, kecemburuan yang menimbulkan kemarahan bahkan fatalnya bisa juga menimbulkan sikap tidak nyaman dan bahkan mengganggu orang-orang sekitar.

Kecemburuan terbaik meliputi irinya kita terhadap amalnya seorang muslim. Cemburu pada orang-orang yang menjadikan kebaikan di sekitar langkahnya, sedangkan diri kita masih berkelimpangan dengan maksiat.

Terlebih-lebih cemburu ini, pada sikapnya Abu Bakar terhadap Rosululloh, pemahaman hubungan antara Umar dengan Nabi SAW dan simpatinya Rosul terhadap Ustman yang pemalu. Duhai, mana yang lebih indah dari hubungan itu. Dan sunggu hubungan yang mungkin tidak pernah kita temui lagi walaupun sekiranya kita cemburu setengah mati.

#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMObatch12
#Day2
#CeritaKertas

HARI BAHAGIA INTERNASIONAL

Sungguh saya baru tahu kalau hari ini adalah hari bahagia internasional. Hari bahagia ini ditetapkan pada tanggal 20 Maret 2018. Kalau mem...