Selasa, 16 Januari 2018

NAWANG SINAWANG



Sejatine urip kuwi mung sawang sinawang” yang kurang lebih artinya hakikat hidup hanyalah persoalan bagaimana seseorang memandang/melihat sebuah kehidupan. Berhubungan dengan filosofih jawa tersebut. Mungkin kata lainnya, yaitu terka menerka apa yang orang lain rasakan dalam hidupnya.

Keahlian alamiah yang terdapat pada diri manusia. Menerka. Mengapa demikian? Karena keterbatasan ilmu yang dimiliki seorang insan membuatnya mampu melakukan ini. Jadi pekerjaan terka menerka menjadi sangat mudah. Tanpa harus di perlu dilatih kita memang meliki instiusi ini. Atau bisa dikatakan kemampuan untuk menganalisis.

Mari kita terka apa sebenarnya yang muncul dalam pikiran jika seroang lak-laki tua yang berjalan tiada arah, kelelahan, sendirian. Atau melihat seseorang yang memilki keluasan waktu untuk melakukan apa yang diinginkan tanpa harus bersusah-susah, setiap yang diinginkan pasti dapat.

Lain lagi juga pikiran kita bermain peran jika melihat seorang anak yang berjalan-jalan tanpa pengawasan orang tuanya, berkendaraan sendirian yang sepertinya diusianya belum tepat untuk mendapatkan ijin tersebut.

Silakan coba menerka apa sebenarnya yang terjadi pada latar belakang hidup mereka.

Pikiran kita memproduksi perkiraan terhadap situasi dan keadaan yang orang lain. Lantas membandingkan dengan hidup kita. Dan tidak banyak juga yang melihat hidup orang lain lebih berwarna dan indah dibandingkan dengan hidup yang mungkin kita rasa memiliki begitu banyak permasalahan. Jalan yang kita lalui begitu berliku, sedangkan orang lain bergerak mudahnya untuk mencapai sesuatu yang ia ingin capai atau tanpa dia berpikir untuk mencapainyapun Tuhan sudah begitu mudah menghadirkannya.

Karena biasanya keruwetan hidup kita membuat kita mulai berpikir, menerka, membandingkan bagaimana hidupnya orang lain. Mungkin rasanya beda jika kita membadingkan dengan kehidupan yang lebih malang dengan keadaan yang kita rasa.

Ya itulah kehidupan. Harusnya memang kita tahu persis dengan apa latar belakang hidup seseorang. Dan mengapa terjadi. Bisa jadi hal yang kita rasa sangat jauh dari apa yang kita terka. Kalaupun tepat pastinya sangatlah berbeda.

Dan semoga Allah memberikan instusi untuk kita agar berpikir tepat dalam menghadapi godaan Nawang sinawang. Karena kadang jauh lebih berat untuk menghitung nikmat yang sering tidak kita rasa. Itulah yang harusnya kita istighfari.

“.. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesunguhnya azab-Ku sangat pedih”

(Q. S. Ibrahim : 7)



Senin, 15 Januari 2018

CEMBURU



Pembahasan rasa ini memang sangat unik. Sebuah rasa yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) salah satu pengertian merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dan sebagainya.

Namun, jika pengertian tersebut lebih cenderung negatif, cemburu juga tidak luput dari sebuah rasa yang dibahas dalam islam. Sebuah rasa yang fitrah bagi seorang insan. Bahkan, sesungguhnya Allah cemburu, orang beriman cemburu dan cemburuNya Allah jika seorang mu’min melakukan apa yang Allah haramkan atasnya (HR. Imam Ahmad, Al Bukhori dan Muslim)

Kompleks rasa itu karena berdampak pada sikap yang kadang sulit dimengerti oleh akal sehat. Begitu pula dengan adab. Karena dikuasai rasa itu, adab bisa saja tertabrak. Tidak terpikir pantas atau tidak.
Kecemburuan yang ada terkadang timbul dibumbui oleh situasi yang mendukung dan keadaan yang menimbulkan prasangka datang. Sehingga jangankan heran jika perasaan cemburu ditingkahi oleh sikap yang menimbulkan kondisi tidak nyaman.

Dan apakah kecemburuan yang menguasai seseorang dapat dikendalikan? Malu, akhlak dan kembali adab yang mampu menahannya. Sekelas istri Rosulullohpun pernah dikuasainya. Sehingga sebenarnya kecemburuan itu adalah hal yang wajar. Tapi lebih indah jika usaha menahannya sesuai dengan keindahan sikap.

Sangatlah tidak mudah. Dari banyaknya rasa yang sulit untuk dikendalikan atau butuh ekstra perjuangan untuk mengendalikannya. Yah, tergantung juga dengan tingkat besar tidaknya kecemburuan itu.

Untuk itu penting mengenali rasa cemburu yang mulai terjangkit, mengenali akar mengapa rasa itu tiba-tiba muncul di dalam dada, mengapa seolah-olah kemarahan timbul dari dalam diri yang ingin diungkapkan. Tidak banyak juga, kecemburuan tersimpan rapat. Namun, kecemburuan yang menimbulkan kemarahan bahkan fatalnya bisa juga menimbulkan sikap tidak nyaman dan bahkan mengganggu orang-orang sekitar.

Kecemburuan terbaik meliputi irinya kita terhadap amalnya seorang muslim. Cemburu pada orang-orang yang menjadikan kebaikan di sekitar langkahnya, sedangkan diri kita masih berkelimpangan dengan maksiat.

Terlebih-lebih cemburu ini, pada sikapnya Abu Bakar terhadap Rosululloh, pemahaman hubungan antara Umar dengan Nabi SAW dan simpatinya Rosul terhadap Ustman yang pemalu. Duhai, mana yang lebih indah dari hubungan itu. Dan sunggu hubungan yang mungkin tidak pernah kita temui lagi walaupun sekiranya kita cemburu setengah mati.

#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMObatch12
#Day2
#CeritaKertas

HARI BAHAGIA INTERNASIONAL

Sungguh saya baru tahu kalau hari ini adalah hari bahagia internasional. Hari bahagia ini ditetapkan pada tanggal 20 Maret 2018. Kalau mem...